close
close
0
Dikirim pada 21 Desember 2009 di hadits tentang shalat

Assalamu’alaikum wr. wb.
Dibawah ini saya postingkan Terjemah Hadits seputar shalat, yang diambil dari terjemah Kitab Hadits Riyadhus Shalihin Karya Imam An-Nawawi, tanpa dikurang atau ditambah sedikitpun dari aslinya. Dengan harapan bisa dijadikan bahan bacaan, kajian bagi kita semua.
 
Keutamaan Shalat Shubuh Dan Ashar


1044. Dari Abu Musa r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Barangsiapa yang bersembahyang shalat bardain - yakni shalat Subuh dan shalat Asar, maka ia akan masuk syurga." (Muttafaq ’alaih)

1045. Dari Abu Zuhair iaitu Umarah bin Ruwaibah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Tidak akan masuk neraka seseorang yang bersembahyang sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya," yakni shalat Subuh dan shalat Asar. (Riwayat Muslim)

1046. Dari Jundub bin Sufyan r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Barangsiapa yang bersembahyang Subuh, maka ia adalah dalam tanggungan Allah - yakni mengenai keselamatan dirinya dan Iain-Iain. Maka perhatikanlah, hai anak Adam - yakni manusia, janganlah sampai Allah itu menuntut kepadamu sesuatu dari tanggungannya." (Riwayat Muslim)

Keterangan Hadis di atas harap dilihat dalam Hadis no. 388.


1047. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Berganti-gantilah untuk menyertai engkau semua beberapa malaikat di waktu malam dan beberapa malaikat di waktu siang. Mereka sama berkumpul dalam shalat Subuh dan shalat Asar. Kemudian naiklah malaikat yang bermalam denganmu semua itu, lalu Allah bertanya kepada mereka, padahal sebenarnya Allah adalah lebih Maha Mengetahui tentang hal-ihwal hamba-hamba-Nya, tanyaNya: "Bagaimanakah engkau semua meninggalkan hamba-hambaKu?" lalu para malaikat itu menjawab: "Kita meninggalkan mereka dan mereka sedang melakukan shalat dan sewaktu kita mendatangi mereka itu, juga di waktu mereka melakukan shalat." (Muttafaq ’alaih)

1048. Dari Jarir bin Abdullah al-Bajali r.a., katanya: "Kita semua ada di sisi Nabi s.a.w. Beliau s.a.w. lalu melihat bulan di malam bulan purnama - yakni tanggal empat belas bulan hijriyah, kemudian beliau bersabda: "Engkau semua akan dapat melihat Tuhanmu sebagaimana engkau semua melihat bulan ini, tidak akan memperoleh kesukaran engkau semua dalam melihatNya itu. Maka jikalau engkau semua dapati tidak akan dialahkan oleh shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah itu," maksudnya jangan sampai dialahkan oleh sesuatu hal sehingga tidak melakukan kedua shalat itu dan jelasnya ini adalah merupakan perintah wajib. (Muttafaq ’alaih)

Dalam suatu riwayat disebutkan: "Beliau s.a.w. lalu melihat ke bulan pada malam bulan purnama itu - yakni bulan tanggal empat belas."

1049. Dari Buraidah r.a., katanya: "Nabi s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang meninggalkan shalat Asar, maka leburlah -yakni rosaklah - amal kelakuannya." (Riwayat Bukhari)
Keutamaan Berjalan Ke Masjid


1050. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Barangsiapa pergi ke masjid pada waktu pagi atau petang hari, maka Allah menyediakan untuknya suatu hidangan - yang lazim diberikan untuk tamu - di syurga, setiap kali ia pergi pagi atau petang hari itu." (Muttafaa’alaih)

1051. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda:

" Barangsiapa yang bersuci di rumahnya kemudian ia pergi ke salah satu dari beberapa rumah Allah - yakni masjid - untuk menyelesaikan salah satu shalat wajib dari beberapa shalat yang diwajibkan oleh Allah, maka langkah-langkahnya itu yang selangkah dapat menghapuskan satu kesalahan sedang langkah yang lainnya dapat menaikkan satu darjat." (Riwayat Muslim)

1052. Dari Ubay bin Ka’ab r.a., katanya: "Ada seorang dari golongan sahabat Anshar yang saya tidak mengetahui seseorang pun yang rumahnya lebih jauh letaknya dari rumah orang itu jikalau hendak ke masjid, tetapi ia tidak pernah terlambat oleh sesuatu shalat - yakni setiap shalat fardhu ia mesti mengikuti berjamaah. Kepadanya dikatakan: "Alangkah baiknya jikalau engkau membeli seekor keledai yang dapat engkau naiki di waktu malam gelap gulita serta di waktu teriknya panas matahari." la menjawab: "Saya tidak senang kalau rumahku itu ada di dekat masjid, sesungguhnya saya ingin kalau jalanku sewaktu pergi ke masjid dan sewaktu pulang dari masjid untuk kembali ke tempat keluargaku itu dicatat pahalanya untukku."

Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Allah telah mengumpulkan untuk pahala kesemuanya itu - yakni waktu pergi dan pulangnya semuanya diberi pahala." (Riwayat Muslim)

1053. Dari Jabir r.a., katanya: "Ada beberapa bidang tanah di sekitar masjid itu kosong, lalu keluarga Bani Salimah berkehendak akan berpindah di dekat masjid. Hal itu sampai terdengar oleh Nabi s.a.w., lalu beliau bersabda kepada mereka: "Ada berita yang sampai kepadaku bahawa engkau semua hendak berpindah di dekat masjid." Mereka menjawab: "Benar, ya Rasulullah. Kita memang berkehendak demikian." Beliau lalu bersabda lagi: "Hai keluarga Bani Salimah, bekas langkah-langkahmu - ke masjid itu - dicatat pahalanya untukmu semua. Maka itu tetaplah di rumah-rumahmu itu saja, tentu dicatatlah bekas langkah-langkahmu semua itu." Mereka lalu berkata: "Kita tidak senang lagi untuk berpindah."

Diriwayatkan oleh Imam Muslim. Imam Bukhari juga meriwayat-kan yang semakna dengan Hadis di atas dari riwayat Anas.

1054. Dari Abu Musa r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya sebesar-besar manusia perihal pahalanya dalam shalat ialah yang terjauh di antara mereka itu tentang jalannya lalu lebih jauh lagi. Dan orang yang menantikan shalat sehingga ia dapat mengikuti shalat itu bersama imam adalah lebih besar pahala-daripada orang yang melakukan shalat itu - dengan munfarid -lalu ia tidur." (Muttafaq ’alaih)

1055. Dari Buraidah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang berjalan di waktu malam ke masjid-masjid bahawa mereka akan memperolehi cahaya yang sempurna besok pada hari kiamat." (Riwayat Abu Dawud dan Termidzi)

1056. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sukakah engkau semua kalau saya tunjukkan akan sesuatu amalan yang dapat melebur semua kesalahan dan dengan-nya dapat pula menaikkan beberapa darjat?" Para sahabat menjawab: "Baiklah, ya Rasulutlah." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Iaitu menyempurnakan wudhu’ sekalipun menemui beberapa hal yang tidak disenangi - seperti terlampau dingin dan sebagainya, banyak-nya melangkahkan kaki untuk ke masjid dan menantikan shalat sesudah melakukan shalat. Itulah yang dapat disebut ribath, itulah yang disebut ribath - perjuangan menahan nafsu untuk memper-banyak ketaatan pada Tuhan." (Riwayat Muslim)

1057. Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Jikalau engkau semua melihat seseorang membiasakan -pulang pergi - ke masjid, maka saksikanlah ia dengan keimanan -yakni bahawa orang itu benar-benar orang yang beriman. Allah Azza wa jalla berfirman: "Hanyasanya yang meramaikan masjid-masjidnya Allah ialah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir."* sampai ke akhir ayat.

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.

* Kelengkapan isi ayat di atas, yang tercantum dalam surat al-Bara’ah atau at-Taubah, ayat 16, ertinya adalah sebagai berikut:

"Serta mendirikan shalat dan menunaikan zakat, juga tidak takut melainkan kepada Allah. Maka mudah-mudahanlah mereka itu termasuk golongan orang-orang yang rnemperolehi petunjuk benar - dari Tuhan."
Keutamaan Menantikan Shalat


1058. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Seseorang di antara engkau semua itu masih tetap dianggap dalam shalat, selama shalat itu menyebabkan ia tertahan. jadi tidak ada yang menghalang-halangi ia untuk kembali ke tempat keluarga itu melainkan kerana menantikan shalat." (Muttafaq ’alaih)

1059. Dari Abu Hurairah r.a., pula bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Dan malaikat itu mendoakan kepada seseorang di antara engkau semua supaya mendapatkan kerahmatan, selama orang itu masih ada di dalam tempat shalatnya yang ia bersembahyang di situ, juga selama ia belum berhadas. Malaikat itu mengucapkan: "Ya Allah, ampunilah orang itu, ya Allah, belas kasihanilah ia." (Riwayat Bukhari)

1060. Dari Anas r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. mengakhirkan shalat Isya’ pada suatu malam sampai ke pertengahan malam, kemudian beliau s.a.w. menghadap - kepada orang banyak - dengan wajahnya setelah selesai bersembahyang, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Orang-orang sudah bersembahyang dan mereka telah tidur dan engkau semua senantiasa dianggap dalam melakukan shalat, sejak engkau semua menantikan shalat itu." (Riwayat Bukhari)
Keutamaan Shalat Jama’ah


1061. Dari Ibnu Umar radhiallahu ’anhuma bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Shalat jamaah adalah lebih utama dari shalat fadz - yakni sendirian -dengan kelebihan dua puluh tujuh darjat." (Muttafaq ’alaih)

1062. Dari Abu Hurairah r.a. katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Shalatnya seseorang lelaki dalam jamaah itu dilipat gandakan pahalanya melebihi shalatnya di rumahnya secara sendirian -munfarid - atau di pasarnya dengan dua puluh lima kali lipatnya. Yang sedemikian itu ialah kerana bahawasanya apabila seseorang itu berwudhu’ lalu memperbaguskan cara wudhu’nya, kemudian keluar ke masjid, sedang tidak ada yang menyebabkan keluarnya itu melainkan kerana hendak bersembahyang, maka tidaklah ia melangkah sekali langkah, melainkan dinaikkanlah untuknya sedarjat dan dihapuskan daripadanya satu kesalahan. Selanjutnya apabila ia bersembahyang, maka para malaikat itu senantiasa mendoakan untuknya supaya ia memperolehi kerahmatan Allah, selama masih tetap berada di tempat shalatnya, juga selama ia tidak berhadas. Ucapan malaikat itu ialah: "Ya Allah, berikanlah kerahmatan pada orang itu; ya Allah, belas-kasihanilah ia." Orang tersebut dianggap berada dalam shalat, selama ia menantikan shalat - jamaah." (Muttafaq ’alaih)

Ini adalah lafaznya Imam Bukhari.

1063. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Ada seorang lelaki buta matanya datang kepada Nabi s.a.w. lalu berkata: "Ya Rasulullah, saya ini tidak mempunyai seorang pembimbing yang dapat membimbing saya untuk pergi ke masjid," lalu ia meminta kepada Rasulullah s.a.w. supaya diberi kelonggaran untuk bersembahyang di rumahnya saja, kemudian beliau s.a.w. memberikan kelonggaran padanya. Setelah orang itu menyingkir, lalu beliau s.a.w. memanggilnya dan berkata padanya: "Adakah engkau mendengar azan shalat?" Orang itu menjawab: "Ya, mendengar." Beliau s.a.w. bersabda lagi: "Kalau begitu, kabulkanlah isi azannya itu."

Maksudnya: Datanglah untuk mengikuti jamaah, kalau menghendaki banyak fadhilah. (Riwayat Muslim)

1064. Dari Abdullah, ada yang mengatakan: ’Amr bin Qais yang terkenal dengan sebutan Ibnu Ummi Maktum, seorang muazzin r.a. bahawasanya ia berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya Madinah ini banyak sekali binatang melatanya - seperti ular, kala dan Iain-Iain - juga banyak binatang buasnya." Kemudian Rasulullah s.a.w. ber-sabda: "Apakah engkau mendengar ucapan Hayya ’alas shalah dan Hayya ’alal falah? - maksudnya: Apakah engkau mendengar bunyi azan? Kalau memang mendengar, maka marilah datang ke tempat berjamaah."

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.

Hayya ’ala ertinya marilah datang.

1065. Dari Abu Hurairah r.a., bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, nescayalah saya telah bersengaja hendak menyuruh supaya diambilkan kayu bakar, lalu dicarikanlah kayu bakar itu, kemudian saya menyuruh supaya shalat dilakukan dengan dibunyikan azan dahulu untuk shalat .tadi, selanjutnya saya menyuruh seseorang lelaki untuk menjadi imamnya orang banyak - dalam shalat jamaah itu, seterusnya saya sendiri pergi ke tempat orang-orang lelaki - yang tidak ikut berjamaah - untuk saya bakar saja rumah-rumah mereka ’tu." (Muttafaq ’alaih)

1066. Dari Ibnu Mas’ud r.a.,katanya: "Barangsiapa yang senang kalau menemui Allah Ta’ala besok - pada hari kiamat - dalam keadaan Muslim, maka hendaklah ia menjaga shalat-shalat fardhu ini di waktu ia dipanggil untuk mendatanginya - yakni jika sudah mendengar azan, sebab sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada Nabimu semua s.a.w. beberapa jalan petunjuk dan sesungguhnya shalat-shalat itu adalah termasuk sebahagian dari jalan-jalan petunjuk tersebut. Andaikata engkau semua sama bersembahyang dalam rumah-rumahmu sendiri sebagaimana shalatnya orang yang suka meninggalkan jamaah itu, yakni yang bersembahyang dalam rumahnya, nescayalah engkau semua telah meninggalkan sunnah Nabimu, selanjutnya jikalau engkau semua telah meninggalkan sunnah Nabimu, maka nescayalah engkau semua tersesat. Sungguh-sungguh saya telah melihat sendiri bahawa tidak ada seorang pun yang suka meninggalkan shalat-shalat - itu dengan berjamaah -melainkan ia adalah seorang munafik yang dapat dimaklumi ke-munafikannya. Sungguh ada pula seseorang itu yang didatangkan untuk menghadhiri shalat jamaah itu, ia disandarkan antara dua orang lelaki sehingga ia ditegakkan di dalam saf - kerana ia mengetahui betapa besar fadhilahnya shalat berjamaah itu." (Riwayat Muslim)

Dalam lain riwayat Imam Muslim disebutkan, katanya: "Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. itu mengajarkan kepada kita akan jalan-jalan petunjuk dan sesungguhnya termasuk salah satu dari jalan-jalan petunjuk itu ialah melakukan shalat di masjid yang diazankan di situ - yakni shalat-shalat yang dilakukan dengan jamaah.

1067. Dari Abuddarda’ r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Tiada tiga orang pun Maka dari itu, hendaklah engkau semua tetap menjaga jamaah, sebab hanyasanya serigala itu dapat makan dari kambing yang jauh - yakni yang terpencil dari kawanannya."

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.

yang berada dalam suatu kampung atau suatu desa yang di kalangan mereka tidak didirikan shalat - jamaah, melainkan syaitan telah dapat memenangkan mereka itu. Maka dari itu, hendaklah engkau semua tetap menjaga jamaah, sebab hanyasanya serigala itu dapat makan dari kambing yang jauh - yakni yang terpencil dari kawanannya."

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.
Anjuran Mendatangi Shalat Jama’ah Subuh Dan Isyak


1068. Dari Usman r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya’ dengan jamaah, maka seolah-olah ia mendirikan shalat separuh malam dan barangsiapa yang mengerjakan shalat Subuh dengan jamaah, maka seolah-olah ia mendirikan shalat semalam suntuk." (Riwayat Muslim)

Dalam riwayat Imam Termidzi dari Usman r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Barangsiapa yang menghadhiri shalat Isya’ dengan jamaah maka baginya adalah pahala mengerjakan shalat selama separuh malam dan barangsiapa yang bersembahyang Isya’ dan Subuh dengan jamaah, maka baginya adalah pahala seperti mengerjakan shalat semalam suntuk."

Imam Termidzi mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih.

1069. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Andaikata para manusia itu mengetahui betapa besar pahalanya mengerjakan shalat Isya’ dan Subuh - dengan berjamaah, nescayalah mereka akan mendatangi kedua shalat itu, sekalipun dengan berjalan merangkak." (Muttafaq ’alaih)

Dan Hadis ini telah dahulu secara lengkapnya yang panjang. Lihat Hadis no. 1030.

1070. Dari Abu Hurairah r.a. pula katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Tidak ada suatu shalatpun yang terlebih berat dirasakan oleh orang-orang munafik itu daripada shalat Subuh dan Isya’, tetapi andaikata mereka mengetahui betapa besar pahalanya kedua shalat itu, nescayalah mereka akan mendatanginya sekalipun dengan berjalan merangkak - ke tempat jamaahnya." (Muttafaq ’alaih)
 
Perintah Menjaga Shalat-shalat Wajib Dan larangan Keras Serta Ancaman Hebat Dalam Meninggalkannya

Allah Ta’ala berfirman:

"jagalah shalat-shalat wajib itu dan shalat pertengahan."(al-Baqarah: 238)

Beberapa alim-ulama mengatakan bahawa yang dimaksud dengan shalat pertengahan ialah shalat Asar.

Allah Ta’ala berfirman pula:

"Jikalau mereka - orang-orang kafir - itu teiah bertaubat dan sama mendirikan shalat serta menunaikan zakat, maka lepaskanlah jalan mereka - yakni anggaplah sebagai orang mu’min yang Iain-lain." (at-Taubah: 5)

1071. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: "Saya bertanya kepada Rasulullah s.a.w.: "Manakah amalan yang lebih utama?" Beliau s.a.w. menjawab: "Iaitu shalat tepat pada waktunya." Saya bertanya lagi: "Kemudian amalan apakah?" Beliau s.a.w. menjawab: "Berbakti kepada kedua orang tua." Saya bertanya pula:

"Kemudian apa lagi?" Beliau s.a.w. menjawab: "Iaitu berjihad fi-sabilillah." (Muttafaq ’alaih)

1072. Dari Ibnu Umar radhiallahu ’anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Agama Islam itu didirikan atas lima perkara, iaitu menyaksikan bahawasanya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawasanya Muhammad adalah pesuruh Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah dan berpuasa dalam bulan Ramadhan." (Muttafaq ’alaih)

1073. Dari Ibnu Umar r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Saya diperintah untuk memerangi para manusia, sehingga mereka itu suka menyaksikan bahawasanya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawasanya Muhammad adalah utusan Allah, juga mendirikan shalat menunaikan zakat. Jikalau mereka telah mengerjakan yang sedemikian itu, maka terpeliharalah mereka itu daripadaku mengenai darah dan hartabenda mereka, melainkan dengan haknya Agama Islam, sedang hisab mereka adalah tergantung atas Allah." (Muttafaq ’alaih)

1074. Dari Mu’az r.a., katanya: "Saya diutus oleh Rasulullah s.a.w. ke Yaman, lalu beliau s.a.w. bersabda:

"Sesungguhnya engkau akan mendatangi sesuatu kaum dari golongan ahlulkitab-yakni kaum Yahudi dan Nasrani, maka ajaklah mereka untuk menyaksikan bahawasanya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawasanya saya adalah utusan Allah. Jikalau mereka sudah taat untuk berbuat sedemikian itu, 1075. Dari Jabir r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

1076. Dari Buraidah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Ikatan perjanjian antara kita - yaitu kaum Muslimin - dan mereka - iaitu kaum munafikin - ialah shalat. Maka barangsiapa yang meninggalkan shalat, sungguh-sungguh kafirlah ia."

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih.

1077. Dari Syaqiq bin Abdullah at-Tabi’i yang sudah dimufakati -oleh para alim-ulama-tentang kebaikannya, rahimahullah,berkata: "Para sahabat Nabi maka beritahukanlah kepada mereka bahawasanya Allah itu mewajibkan kepada mereka shalat lima kali dalam sehari semalam. Jikalau mereka sudah taat untuk berbuat sedemikian itu, maka beritahukanlah pula bahawasanya Allah itu mewajibkan kepada mereka untuk mengeluarkan sedekah - zakat - yang diambil dari golongan mereka yang kaya-kaya dan dikembalikan kepada golongan mereka yang fakir-fakir. Jikalau mereka sudah taat berbuat sedemikian, maka takutlah engkau akan harta-harta mereka yang mulia - maksudnya jangan bertindak zalim dan menganiaya. Takutlah kepada doanya orang yang dianiaya. sebab sesungguhnya saja, antara doa itu dengan Allah tidak ada lagi tabirnya - yakni doa orang yang dianiaya pasti akan dikabulkan." (Muttafaq ’alaih)

Muhammad s.a.w. tidak berpendapat akan sesuatu dari sekian banyak amalan yang jikalau ditinggalkan lalu menjadikan kafir, kecuali hanya shalat saja." Yakni: jadi kalau shalat yang ditinggalkan maka dapat menyebabkan orang yang meninggalkannya itu menjadi kafir.

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dengan isnad shahih.

1078. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Sesungguhnya pertama-tama amalan yang seseorang itu dihisab dengannya ialah shalatnya, maka jikalau baik shalatnya itu, sungguh-sungguh berbahagialah dan beruntunglah ia dan jikalau rosak, sungguh-sungguh menyesal dan merugilah ia. jikalau seseorang itu ada kekurangan dari sesuatu amalan wajibnya, maka Tuhan Azzawajalla berfirman: "Periksalah olehmu semua - hai malaikat, apakah hambaKu itu mempunyai amalan yang sunnah." Maka dengan amalan yang sunnah itulah ditutupnya kekurangan amalan wajibnya, kemudian cara memperhitungkan amalan-amalan lainnya itupun seperti cara memperhitungkan amalan shalat ini."

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.
Keutamaan Saf Pertama Dan Perintah Menyempurnakan Saf-saf Yang Permulaan — Yakni jangan Berdiri Di Saf Kedua Sebelum Sempurna Saf Pertama Dan jangan Berdiri Di Saf Ketiga Sebelum Sempurna Saf Kedua Dan Seterusnya, Serta Meratakan Saf-saf Dan Merapatkannya


1079. Dari Jabir bin Samurah radhiallahu ’anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. keluar pada kita semua, lalu bersabda:

"Tidak dapatkah engkau semua berbaris sebagaimana berbaris-nya para malaikat di sisi Tuhannya?" Kita lalu berkata: "Ya Rasulullah, bagaimanakah cara para malaikat itu berbaris di sisi Tuhannya?" Beliau s.a.w. bersabda: "Mereka menyempurnakan saf-saf permulaan - yakni tidak berdiri di saf kedua sebelum sempurnanya saf pertama dan tidak di saf ketiga sebelum sempurnanya saf kedua dan seterusnya, juga mereka itu saling rapat-merapatkan saf-saf itu." (Riwayat Muslim)

1080. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Andaikata para manusia itu mengetahui betapa besarnya pahala azan dan menempati saf pertama, kemudian tidak dapat memperolehi jalan untuk itu melainkan dengan mengadakan undian, nescayalah mereka itu akan mengadakan undian." (Muttafaq ’alaih)

1081. Dari Abu Hurairah r.a. pula katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sebaik-baiknya saf bagi kaum lelaki ialah saf pertama-nya, sedang seburuk-buruknya saf bagi mereka ialah saf yang penghabisan. Adapun sebaik-baiknya saf bagi kaum wanita ialah saf penghabisan, sedang seburuk-buruknya saf bagi mereka ialah saf pertamanya." (Riwayat Muslim)

1082. Dari Abu Said r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. melihat di kalangan sahabat-sahabatnya ada kemunduran - yakni ada orang-orang yang suka berdiri di saf belakang saja, lalu beliau s.a.w. bersabda kepada mereka: "Majulah engkau semua lalu ikutilah saya dan hendaknya mengikuti engkau semua orang-orang yang se-sudahmu itu. Tidak henti-hentinya sesuatu kaum itu suka membelakang, sehingga mereka akan dibelakangkan pula oleh Allah.’ Maksudnya kalau orang itu gemar membelakang dalam kemuliaan, tentu dibelakangkan oleh Allah dalam pemberian kerahmatan. (Riwayat Muslim)

1083. Dari Abu Mas’ud r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. pernah mengusap bahu-bahu kita dalam shalat lalu bersabda: "Ratakanlah olehmu semua - saf-saf itu - dan jangan berselisih - seperti ada yang lebih maju atau lebih mundur, sebab hati-hatimu pun akan berselisih pula. Hendaknya mendampingi saya orang-orang yang dewasa dan yang berakal cukup di antara engkau semua itu, kemudian orang-orang yang mendekati mereka - yakni yang tarafnya ada di bawah-nya, kemudian orang-orang yang mendekati mereka - yakni yang tarafnya di bawah mereka lagi." (Riwayat Muslim)

1084. Dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Ratakanlah saf-safmu semua itu, kerana sesungguhnya meratakan saf-saf itu termasuk tanda kesempurnaan shalat." (Muttafaq ’alaih)

Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan:

"Kerana meratakan saf-saf itu adalah termasuk tanda didirikan-nya shalat."

1085. Dari Anas r.a. pula, katanya: "Shalat telah diiqamati, kemudian Rasulullah s.a.w. menghadap kepada kita semua dengan wajahnya lalu bersabda:

"Tetaplah engkau semua mendirikan saf-safmu semua itu dan rapatkanlah saf-saf tadi, karena sesungguhnya saya ini dapat melihat engkau semua dari belakang punggungku."

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan lafaznya dan juga oleh Imam Muslim yang semakna dengan itu. Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan pula: "Seorang dari kita menempelkan bahunya dengan bahu kawannya dan juga kakinya dengan kaki kawannya -yakni amat rapat sekali."

1086. Dari an-Nu’man bin Basyir radhiallahu ’anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Nescayalah engkau semua harus meratakan saf-safmu itu atau -kalau tidak suka meratakan saf-saf, maka nescayalah Allah akan memperselisihkan antara muka-muka hatimu - yakni menjadi ummat yang suka bercerai-cerai." (Muttafaq ’alaih)

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: Bahawasanya Rasulullah s.a.w. itu meratakan antara saf-saf kita, sehingga seolah-olah diratakannya barisan anak panah. Demikianlah sehingga beliau meyakinkan bahawa kita semua telah mengerti benar-benar akan cara meratakan saf-saf itu. Selanjutnya pada suatu hari beliau s.a.w. keluar lalu berdiri sehingga hampir saja akan bertakbir, lalu melihat ada seorang yang dadanya menonjoh ke muka saf, kemudian beliau s.a.w. bersabda:

"Hai hamba-hamba Allah, nescayalah engkau semua harus meratakan saf-safmu atau nescayalah Allah akan memperselisihkan antara muka-muka hatimu."

1087. Dari al-Bara’ bin ’Azib radhiallahu ’anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. mengisikan sela-sela saf dari arah sini ke arah situ, sehingga dada-dada dan bahu-bahu kita saling mengusap - antara yang seorang dengan lainnya. Beliau s.a.w. bersabda: "Janganlah engkau semua berselisih - yakni terlampau maju atau terlampau mundur dari saf, maka hal itu akan menyebabkan berselisihnya hati-hatimu semua." Beliau s.a.w. juga bersabda: "Sesungguhnya Allah dan malaikatnya menyampaikan kerahmatan pada saf-saf permulaan."

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.

1088. Dari Ibnu Umar radhiallahu ’anhuma bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tetaplah mendirikan saf-saf dengan rata, samakanlah letaknya antara bahu-bahu, tutuplah semua sela yang kosong dan bersikap haluslah dengan tangan saudara-saudaramu - yakni jikalau diajak maju atau mundur untuk meratakan saf-saf. Janganlah engkau semua meninggalkan kekosongan-kekosongan untuk diisi oleh syaitan. Barangsiapa yang merapatkan saf, maka Allah akan merapatkan hubungan dengannya dan barangsiapa yang memutuskan saf - yakni tidak suka mengisi mana-mana yang tampak kosong, maka Allah memutuskan hubungan dengannya."

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih

1089. Dari Anas r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Rapatkanlah saf-saf mu semua, perdekatkanlah jarak antara saf-saf itu - yang sekiranya antara kedua saf itu kira-kira tiga hasta - dan samakanlah letaknya antara leher-leher. Maka demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaanNya, sesungguhnya saya nescaya-lah dapat melihat syaitan itu masuk di sela-sela kekosongan saf, sebagaimana halnya kambing kecil."

Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad menurut syarat Imam Muslim.

Alhadzaf dengan ha’ muhmalah dan dzal mu’jamah yang keduanya difathahkan, lalu fa’ ialah kambing kecil, hitam warnanya yang ada di Yaman.

1090. Dari Anas r.a. pula bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda;

"Sempurnakanlah saf yang termuka dahulu, kemudian yang ada di belakangnya itu - lalu yang ada di belakangnya lagi. Maka mana yang masih kurang rapatnya, hendaklah itu ada di saf yang ter-belakang sendiri."

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan,

1091. Dari Aisyah radhiallahu ’anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Sesungguhnya Allah dan malaikatNya menyampaikan kerahmatan pada saf-saf yang sebelah kanan."

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad menurut syaratnya Imam Muslim, tetapi di dalamnya ada seorang lelaki yang masih diperselisihkan dapatnya dipercayai oleh para ahli Hadis.

1092. Dari al-Bara’ r.a., katanya: "Kita semua apabila bersembahyang di belakang Rasulullah s.a.w., maka kita semua senang kalau berada di sebelah kanannya. Beliau menghadap kepada kita dengan wajahnya, lalu saya mendengar beliau s.a.w. mengucapkan " doa - yang ertinya: "Ya Tuhan, lindungilah saya dari siksaMu pada hari Engkau menghidupkan - sesudah mati yakni pada hari kiamat -atau pada hari Engkau mengumpulkan hamba-hambaMu." (Riwayat Muslim)

1093. Dari Abu Hurairah r.a., katanya:

"Rasulullah s.a.w. bersabda: "Pertengahkanlah imam - yakni antara ma’mum yang berdiri di sebelah kanan dan di sebelah kiri hendaklah sama banyaknya, sehingga imam itu tempatnya ada di tengah - dan tutuplah sela-sela yang kosong." (Riwayat Abu Dawud)
Keutamaan shalat-shalat Sunnah Rawaatib Yang
Mengikuti Shalat-shalat Fardhu Dan Huraian Sesedikit-
sedikit Rakaatnya, Sesempurna sempurnanya Dan Yang
Pertengahan Antara Keduanya

1094. Dari Ummul mu’minin iaitu Ummu Habibah yakni Ramlah binti Abu Sufyan radhiallahu ’anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Tiada seorang hambapun yang Muslim yang bersembahyang kerana Allah Ta’ala setiap hari dua belas rakaat sebagai shalat sunnah yang bukan diwajibkan, melainkan Allah akan mendirikan untuknya sebuah rumah dalam syurga, atau: melainkan untuknya akan didirikanlah sebuah rumah dalam syurga." (Riwayat Muslim)

1095. Dari Ibnu Umar radhiallahu ’anhuma, katanya: "Saya bersembahyang bersama Rasulullah s.a.w. dua rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat lagi sesudahnya, juga dua rakaat sesudah Jum’ah, dua rakaat sesudah Maghrib dan dua rakaat pula sesudah Isya’." (Muttafaq ’alaih)

1096. Dari Abdullah bin Mughaffal r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Antara setiap dua azan boleh bersembahyang sunnah, antara setiap dua azan boleh bersembahyang sunnah, antara setiap dua azan boleh bersembahyang sunnah." Dalam ketiga kalinya ini beliau s.a.w. bersabda: "Bagi orang yang suka mengerjakan itu." (Muttafaq ’alaih)

Yang dimaksudkan dengan dua azan itu ialah azan dan iqamat.
Mengukuhkan Sunnahnya Dua Rakaat Shubuh

1097. Dari Aisyah radhiallahu ’anha bahawasanya Nabi s.a.w. itu tidak meninggalkan shalat sunnah empat rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat sebelum Subuh." (Riwayat Bukhari)

1098. Dari Aisyah radhiallahu ’anha pula, katanya: "Tidak ada sesuatu amalanpun dari golongan amalan-amalan sunnah yang lebih ditetapi oleh Nabi s.a.w. melebihi dua rakaat fajar - yakni dua rakaat sebelum shalat Subuh." (Muttafaq ’alaih)

1099. Dari Aisyah radhiallahu ’anha pula dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Dua rakaat sunnah fajar - yakni sebelum Subuh - adalah lebih baik nilainya daripada dunia dan apa saja yang ada di dalamnya ini -yakni dunia dan seisinya." (Riwayat Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan: Nabi s.a.w. bersabda: "Nescaya-lah kedua rakaat sebelum Subuh itu lebih saya cintai daripada dunia seluruhnya ini."

1100. Dari Abu Abdillah iaitu Bilal bin Rabah r.a., juru azan Rasulullah s.a.w. bahawasanya ia mendatangi Rasulullah s.a.w. untuk memberitahukannya dengan masuknya shalat Subuh. Kemudian Aisyah mempersibukkan Bilal dengan sesuatu urusan yang ditanyakan oleb Aisyah kepada Bilal itu, sehingga waktu pun menjadi pagi sekali. Selanjutnya Bilal berdiri lalu memberitahukannya dengan masuknya waktu shalat dan beliau s.a.w. mengikuti pemberitahuannya itu. Rasulullah s.a.w. belum lagi keluar. Setelah beliau s.a.w. keluar, lalu beliau s.a.w. bersembahyang dengan orang banyak. Bilal kemudian memberitahukan kepada beliau s.a.w. bahawa Aisyah mempersibukkan dirinya dengan sesuatu perkara yang ditanyakan padanya,
sehingga waktunya menjadi pagi sekali dan Nabi s.a.w. terlambat keluarnya. Nabi s.a.w. lalu bersabda: "Sesungguhnya saya tadi melakukan sembahyang dua rakaat fajar-sebelum Subuh." Bilal berkata: "Ya Rasulullah, Tuan tadi sudah berpagi-pagi sekali." Beliau s.a.w. menjawab: "Andaikata saya berpagi-pagi lebih daripada pagi tadi, nescayalah saya akan melakukan dua rakaat dan saya perbaguskan serta saya perindahkan lagi."

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.
Meringankan Dua Rakaat Fajar — Sunnah Sebelum Subuh, Huraian Apa Yang Dibaca Dalam Kedua Rakaat Itu Serta Huraian Perihal Waktunya


1101. Dari Aisyah radhiallahu ’anha: "Bahawasanya Nabi s.a.w. bersembahyang dua rakaat yang ringan sekali antara azan dan iqamah dari shalat Subuh." (Muttafaq ’alaih)

Dalam riwayat Imam-imam Bukhari dan Muslim disebutkan pula: Beliau s.a.w. bersembahyang dua rakaat fajar, lalu meringankan kedua rakaatnya, sehingga saya bertanya, apakah beliau s.a.w. itu juga membaca Ummul Quran - yakni surat al-Fatihah.

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: Beliau s.a.w. bersembahyang dua rakaat fajar, jikalau telah mendengar azan dan meringankan kedua rakaat itu.

Dalam riwayat lain lagi juga disebutkan: Jikalau telah terbit fajar.

1102. Dari Hafshah radhiallahu ’anha bahwasanya Rasulullah s.a.w. itu apabila muazzin sudah berazan dan Subuh - yakni fajar shadik - sudah terbit, beliau s.a.w. lalu bersembahyang dua rakaat yang ringan." (Muttafaq ’alaih)

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: "Rasulullah s.a.w. itu apabila fajar telah terbit, maka beliau s.a.w. tidak bersembahyang melainkan dua rakaat yang ringan."

1103. Dari Ibnu Umar radhiallahu ’anhuma, katanya: "Nabi s.a.w. itu bersembahyang di waktu malam dua rakaat, dua rakaat, lalu melakukan witir pada waktu akhir malam. Beliau s.a.w. juga bersembahyang dua rakaat sebelum shalat Subuh dan seolah-olah azan itu ada di dekat kedua telinganya." (Muttafaq ’alaih)

1104. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ’anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. itu dalam rakaat pertama dari kedua buah rakaat fajar - sebelum Subuh - itu membaca: Qulu amanna billahi wa ma unzila ilaina, yaitu ayat dalam surat al-Baqarah - ayat 136 - dan di rakaat akhirnya membaca: Amanna billahi wasyhad bianna muslimun - surat ali-lmran ayat 52.

Dalam riwayat lain disebutkan: "Dalam rakaat akhirnya membaca: "Ta’alau ila kalimatin sawain bainana wa bainakum - surat ali-lmran ayat 64.

Diriwayatkan kedua Hadis di atas itu oleh Imam Muslim.

1105. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. itu membaca dalam kedua rakaat fajar, iaitu: Qul ya ayyuhal kafirun - untuk rakaat pertama - dan Qul huwallahu ahad - untuk rakaat kedua. (Riwayat Muslim)

1106. Dari Ibnu Umar radhiallahu ’anhuma, katanya: "Saya meneliti Nabi s.a.w. selama sebulan, beliau s.a.w. dalam dua rakaat sebelum Subuh itu membaca: Qul ya ayyuhal kafirun -untuk rakaat pertama - dan Qul huwallahu ahad - untuk rakaat kedua."

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.
 
Sunnahnya Berbaring Sesudah Mengerjakan Shalat sunnah Dua Rakaat Fajar — Sebelum Subuh — Pada Lambung Sebelah Kanan Dan Anjuran Untuk Melakukan
Ini, Baikpun Pada Malam Harinya Bersembahyang Tahajjud Atau Tidak


1107. Dari Aisyah radhiallahu ’anha, katanya: "Nabi s.a.w. itu apabila sudah selesai bersembahyang dua rakaat fajar - shalat sunnah sebelum Subuh-lalu beliau s.a.w. berbaring pada lambungnya yang sebelah kanan - yakni miring kanan." (Riwayat Bukhari)

1108. Dari Aisyah radhiallahu ’anha pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. itu bersembahyang antara sesudah selesainya shalat Isya’ sampai terbitnya fajar sebanyak sebelas rakaat, setiap habis dua rakaat beliau s.a.w. bersalam dan berwitir dengan satu rakaat. Jikalau muazzin sudah diam dengan bunyi azan shalat Subuh dan sudah tampak jelas terbitnya fajar dan telah didatangi oleh muazzin, lalu beliau s.a.w. berdiri untuk melakukan shalat sunnah dua rakaat yang ringan, kemudian berbaring pada belahan tubuhnya yang kanan sehingga beliau s.a.w. didatangi oleh muazzin untuk memberitahu-kan waktunya iqamat." (Riwayat Muslim)

Ucapan Aisyah radhiallahu ’anha: Yusallimu baina kulli rak’ataini, demikianlah yang tertera dalam kitab shahih Muslim. Adapun artinya ialah bersalam sesudah setiap dua rakaat - baina dengan arti sesudah.

1109. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Jikalau seseorang di antara engkau semua sudah bersembahyang dua rakaat sunnah fajar - sebelum Subuh, maka hendaklah berbaring pada sebelah kanannya."

Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dengan isnad-isnad shahih. Termidzi mengatakan bahawa ini adalah Hadis shahih.
Shalat Sunnah Zuhur


1110. Dari ibnu Umar radhiallahu ’anhuma, katanya: "Saya bersembahyang bersama Rasulullah s.a.w. dua rakaat sebelum zuhur dan dua rakaat sesudahnya." (Muttafaq ’alaih)

1111. Dari Aisyah radhiallahu ’anha bahawasanya Nabi s.a.w. itu tidak meninggalkan shalat sunnah sebanyak empat rakaat sebelum Zuhur." (Riwayat Bukhari)

1112. Dari Aisyah radhiallahu ’anha pula, katanya: "Nabi s.a.w. bersembahyang di rumahku empat rakaat sebelum Zuhur kemudian keluar lalu bersembahyang bersama orang banyak, terus masuk rumah lagi lalu bersembahyang dua rakaat. Beliau s.a.w. itu juga bersembahyang Maghrib bersama orang banyak lalu masuk rumah terus bersembahyang dua rakaat sunnah dan beliau s.a.w. bersembahyang Isya’ dengan orang banyak dan masuk rumah lalu bersembahyang dua rakaat sunnah. (Riwayat Muslim)

1113. Dari Ummu Habibah radhiallahu ’anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Barangsiapa menjaga shalat sunnah empat rakaat sebelum Zuhur dan empat rakaat lagi sesudahnya, maka Allah mengharamkan orang itu atas neraka."

Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi, dan Termidzi mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih.

1114. Dari Abdullah bin as-Saib r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersembahyang empat rakaat sunnah setelah matahari lingsir -tergelincir-iaitu sebelum shalat Zuhur -yang wajib- dan bersabda: "Bahawasanya ini adalah saat dibukanya pintu-pintu langit, maka saya senang kalau amalan shalihku naik di situ."

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih.

1115. Dari Aisyah radhiallahu ’anha bahawasanya Nabi s.a.w. apabila tidak bersembahyang empat rakaat sebelum Zuhur, maka beliau s.a.w. bersembahyang empat rakaat itu sesudahnya Zuhur."

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan
Shalat Sunnah Asar

1116. Dari Ali bin Abu Thalib, katanya: "Nabi s.a.w. itu bersembahyang sunnah empat rakaat sebelum Asar, memisahkan antara empat rakaat tadi dengan bersalam - yakni sesudah dapat dua rakaat bersalam dulu - kepada para malaikat muqarrabun dan orang-orang yang mengikuti mereka dari golongan kaum Muslimin dan mu’minin."

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.


1117. Dari Ibnu Umar radhiallahu ’anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:

"Allah memberikan kerahmatan kepada orang yang bersembahyang sunnah empat rakaat sebelum Asar."

Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.

1118. Dari Ali bin Abu Thalib r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. bersembahyang sunnah dua rakaat sebelum Asar.

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.
Shalat Sunnah Maghrib, Sesudah Dan Sebelumnya

Sudah terdahulu dalam bab-bab di muka Hadisnya Ibnu Umar radhiallahu ’anhuma - lihat Hadis no. 1095 - dan Hadisnya Aisyah radhiallahu ’anha - lihat Hadis no. 1112 - dan keduanya itu adalah shahih bahawa Nabi s.a.w. bersembahyang dua rakaat sesudah Maghrib.

1119. Dari Abdullah bin Mughaffal r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:

"Bersembahyanglah engkau semua sebelum Maghrib - yakni shalat sunnah." Beliau s.a.w. mengucapkan dalam sabdanya yang ketiga kalinya dengan tambahan: "Bagi siapa yang ingin melakukannya." (Riwayat Bukhari)

1120. Dari Anas r.a., katanya: "Sungguh-sungguh saya telah melihat golongan sahabat-sahabat besar-besar sama bersegera ke ruang dalam masjid ketika Maghrib - yakni sesudah azan Maghrib dibunyikan perlu shalat sunnah di situ. (Riwayat Bukhari)

1121. Dari Anas r.a. pula, katanya: "Kita semua di zaman Rasulullah s.a.w. bersembahyang dua rakaat sesudah terbenamnya matahari yakni sebelum Maghrib." la ditanya: "Apakah Rasulullah s.a.w. juga bersembahyang sunnah itu?" Anas r.a. menjawab: "Beliau s.a.w. melihat kita bersembahyang dua rakaat itu, tetapi beliau s.a.w. tidak menyuruh kita melakukannya dan tidak pula melarangnya." (Riwayat Muslim)

1122. Dari Anas r.a. pula, katanya: "Kita semua ada di Madinah, maka jikalau muazzin telah selesai berazan untuk shalat Maghrib, maka orang-orang sama bersegera ke ruang dalam masjid lalu bersembahyang dua rakaat, sehingga sesungguhnya seseorang asing - yang tempatnya bukan di Madinah - nescayalah kalau ia masuk masjid pasti mengira bahawa shalat wajib Maghrib sudah selesai dikerjakan kerana banyaknya orang yang bersembahyang sunnah dua rakaat sebelum Maghrib itu." (Riwayat Muslim)
 
Shalat Sunnah Jumaat


Dalam bab ini termasuklah Hadisnya Ibnu Umar radhiallahu ’anhuma yang lalu - lihat Hadis no. 1095 - yang menyebutkan bahawasanya ia bersembahyang bersama Nabi s.a.w. dua rakaat sesudah shalat Jum’ah. (Muttafaq ’alaih)

1123. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jikalau engkau semua bersembahyang Jum’ah, maka hendaklah sesudahnya itu bersembahyang sunnah empat rakaat." (Riwayat Muslim)

1124. Dari Ibnu Umar radhiallahu ’anhuma bahawasanya Nabi s.a.w. itu tidak bersembahyang sesudah Jum’ah sehingga pulang, kemudian beliau s.a.w. bersembahyang dua rakaat di rumahnya." (Riwayat Muslim)
Sunnahnya Mengerjakan Shalat-shalat Sunnah Di Rumah, Baik pun Sunnah Rawatib Atau Lain-lainnya Dan Perintah Berpindah Untuk Bersembahyang Sunnah Dari Tempat Yang Digunakan Bersembahyang Wajib Atau Memisahkan Antara Kedua Shalat Itu Dengan Pembicaraan


1125. Dari Zaid bin Tsabit r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda:

"Bersembahyanglah engkau semua, hai sekalian manusia, sebab sesungguhnya seutama-utama shalat itu ialah shalatnya seseorang yang dikerjakan dalam rumahnya, kecuali shalat yang diwajibkan." (Muttafaq ’alaih)

1126. Dari Ibnu Umar radhiallahu ’anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:

"Jadikanlah dari sebahagian shalatmu - yakni yang sunnah - itu di rumah-rumahmu sendiri dan janganlah menjadikan rumah-rumah itu sebagai kuburan - yakni tidak pernah digunakan shalat sunnah atau membaca al-Quran yakni sunyi dari ibadat." (Muttafaq ’alaih)

1127. Dari Jabir r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jikalau seseorang di antara engkau semua itu telah menyelesaikan shalatnya di masjid, maka hendaklah memberikan sekadar bahagian dari sebahagian shalatnya - yakni yang sunnah-sunnah - untuk rumahnya, kerana sesungguhnya Allah membuat kebaikan dalam rumahnya itu kerana shalatnya tadi." (Riwayat Muslim)

1128. Dari ’Amr bin ’Atha’ bahawasanya Nafi’ bin Jubair menyuruhnya pergi kepada as-Saib bin Yazid anak lelaki dari saudara perempuannya Namir, perlu menekankan padanya - yakni ’Amr supaya bertanya kepada as-Saib - perihal sesuatu yang pernah dilihat oleh Mu’awiyah dari dirinya mengenai shalat. As-Saib lalu berkata: "Ya, saya pernah bersembahyang Jum’ah dengan Mu’awiyah di ruang dalam masjid. Ketika imam sudah bersalam, saya lalu berdiri lagi di tempatku shalat - wajib - tadi lalu saya bersembahyang sunnah. Kemudian setelah ia masuk rumah, lalu ia menyuruh saya datang padanya, kemudian berkata: "Jangan engkau mengulangi lagi sebagaimana yang engkau kerjakan tadi. Jikalau engkau shalat Jum’ah, maka janganlah engkau persambungkan di tempatmu tadi itu dengan shalat sunnah, sehingga engkau berbicara dulu atau keluar, kerana sesungguhnya Rasulullah s.a.w. menyuruh kita yang sedemikian itu, iaitu supaya tidak dipersambungkan shalat itu dengan shalat lain sehingga kita berbicara atau keluar dulu." (Riwayat Muslim)
Anjuran Melakukan Shalat Witir Dan Huraian Bahawa Shalat ini Adalah Sunnah Yang Dikukuhkan Serta Huraian Mengenai Waktunya


1129. Dari Ali r.a., katanya: "Shalat witir itu bukannya wajib sebagaimana shalat yang difardhukan, tetapi Rasulullah s.a.w. mengerjakan shalat itu dan bersabda:

"Sesungguhnya Allah itu Maha Witir - yakni ganjil, maka lakukanlah shalat witir - iaitu yang rakaatnya ganjil, hai ahli al-Quran."

Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan

1130. Dari Aisyah radhiallahu ’anha, katanya: "Dari seluruh malam itu Rasulullah s.a.w. sungguh-sungguh telah melakukan witir - yakni waktu berwitir beliau s.a.w. tidak tertentu waktunya, iaitu di permulaan malam, di pertengahan malam, di akhir malam dan berakhirlah waktu witir beliau s.a.w. itu sampai waktu sahur- hampir menyingsingnya fajar shadik." (Muttafaq ’alaih)

1131. Dari Ibnu Umar radhiallahu ’anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:

"Jadikanlah shalat witir itu sebagai akhir shalatmu di waktu malam." (Muttafaq ’alaih)

1132. Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda:

; "Berwitirlah engkau semua sebelum engkau semua berpagi-pagi - yakni sebelum terbitnya fajar shadik." (Riwayat Muslim)

1133. Dari Aisyah radhiallahu ’anha bahawasanya Nabi s.a.w. melakukan shalatnya di waktu malam, sedang ia - yakni Aisyah iaitu isterinya - melintang antara kedua tangannya - yakni di mukanya. Maka jikalau tinggal mengerjakan witir, beliau s.a.w. membangun-kannya, lalu Aisyah pun berwitirlah." (Riwayat Muslim)

Dalam riwayat Muslim lainnya disebutkan: "Maka jikalau tinggal mengerjakan witir, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Bangunlah dan berwitirlah, hai Aisyah."

1134. Dari Ibnu Umar radhiallahu ’anhuma bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda:

"Dahuluilah shalat Subuh itu dengan witir - maksudnya’ Bangunlah sebelum waktunya shalat Subuh lalu berwitirlah dulu."

Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi, dan Termidzi mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih.

1135. Dari Jabir r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang takut kalau tidak bangun di akhir malam, maka hendaklah berwitir di permulaan dan barangsiapa lupa hendak bangun di akhir malam, maka hendaklah berwitir di akhir malam, kerana sesungguhnya shalat akhir malam itu disaksikan oleh para malaikat dan yang sedemikian itulah yang lebih utama." (Riwayat Muslim)
 
Keutamaan Shalat Dhuha Dan Huraian Perihal Sesedikit-sedikitnya Rakaat Dhuha, Sebanyak-banyaknya Dan Yang Pertengahannya Serta Anjuran Untuk Menjaga Untuk Terus Melakukannya

1136. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Kekasihku - yakni Nabi Muhammad s.a.w. telah memberikan wasiat padaku untuk melakukan puasa sebanyak tiga hari dalam setiap bulan, juga dua rakaat sunnah Dhuha dan supaya saya bersembahyang witir dulu sebelum tidur." (Muttafaq ’alaih)

Melakukan shalat witir sebelum tidur itu hanyalah disunnahkan bagi seseorang yang tidak mempercayai dirinya akan dapat bangun pada akhir malam. Tetapi sekiranya dapat mempercayai dirinya, Maka pada akhir malam adalah lebih utama lagi.

1137. Dari Abu Zar r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Setiap ruas tulang dari seseorang di antara engkau semua itu harus ada sedekahnya pada saban pagi harinya, maka setiap sekali tasbih - bacaan Subhanallah - adalah sedekah, setiap sekali tahmid - bacaan Alhamdulillah - adalah sedekah, setiap sekali tahlil - bacaan La ilaha ilallah - adalah sedekah, setiap sekali takbir - bacaan Allahu Akbar - adalah sedekah, memerintahkan kepada kebaikan adalah sedekah, melarang dari kemunkaran adalah sedekah dan yang sedemikian itu dapat dicukupi oleh dua rakaat yang dilakukan oleh seseorang dart shalat Dhuha." (Riwayat Muslim)

1138. Dari Aisyah radhiallahu ’anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. itu bersembahyang Dhuha empat rakaat dan menambahkan dari jumlah itu sekehendak hatinya." (Riwayat Muslim)

1139. Dari Ummu Hani’ iaitu Fakhitah binti Abu Thalib radhiallahu ’anha, katanya: "Saya pergi ke tempat Rasulullah s.a.w. pada hari pembebasan - kota Makkah, lalu saya temui beliau s.a.w. sedang mandi. Setelah selesai beliau s.a.w. mandi, lalu bersembahyang sebanyak lapan rakaat. Itulah shalat Dhuha." (Muttafaq ’alaih)

Ini adalah yang diringkaskan dari lafaznya salah satu dari beberapa riwayat Muslim.
Bolehnya Melakukan Shalat Dhuha Dari Tingginya Matahari Sampai Tergelincir — Atau Lingsirnya Dan Yang Lebih Utama lalah Dilakukan Ketika Sangatnya Panas Dan Meningginya Waktu Dhuha


1140. Dari Zaid bin Arqam r.a. bahawasanya ia melihat sekelompok kaum - beberapa orang - sama melakukan shalat Dhuha lalu ia berkata: "Apakah, orang-orang tidak mengetahui bahawa shalat Dhuha di waktu selain ini adalah lebih utama, sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Shalatnya orang-orang yang bertaubat itu ialah jikalau anak-anak unta itu telah merasa panas matahari." (Riwayat Muslim)

Tarmadhu dengan fathahnya ta’ dan mim dan dengan dhad mu’jamah, iaitu sangat panas, sedang alfishal ialah jama’nya fashil iaitu anak unta yang masih kecil.
Anjuran Melakukan Shalat Sunnah Tahiyyatul Masjid — Menghormat Masjid — Dua Rakaat Dan Makruhnya Duduk Sebelum Bersembahyang Dua Rakaat, Di Waktu Manapun juga Masuknya Masjid Itu Dan Sama Halnya, Apakah Bersembahyang Dua Rakaat Tadi Dengan Niat Tahiyat, Shalat Fardhu, Sunnah Rawatib Dan Lain-lainnya

1141. Dari Abu Qatadah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Jikalau salah seorang di antara engkau semua itu masuk masjid, maka janganlah duduk dulu sebelum bersembahyang dua rakaat." (Muttafaq ’alaih)

1142. Dari Jabir r.a., katanya: "Saya mendatangi Nabi s.a.w. dan ia berada di masjid, lalu beliau s.a.w. bersabda:

"Bersembahyanglah dua rakaat." (Muttafaq ’alaih)
 
Sunnahnya Dua Rakaat Sesudah Wudhu’

1143. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. berkata kepada Bilal:

"Hai Bilal, beritahukanlah kepada saya dengan suatu amalan yang paling engkau harapkan pahalanya serta yang engkau amalkan dalam Islam, kerana sesungguhnya saya mendengar suara derap kedua terompahmu di mukaku di dalam syurga." Bilal menjawab: "Saya tidak melakukan sesuatu amalan yang lebih saya harapkan di sisiku daripada kalau saya habis bersuci sesuatu sucian dalam waktu malam ataupun siang, melainkan saya tentu bersembahyang dengan sucianku itu, sebagaimana yang ditentukan untukku - yakni setiap habis berwudhu’ lalu melakukan shalat sunnah wudhu’." (Muttafaq ’alaih)

Ini adalah lafaznya Imam Bukhari

Addaffu dengan fa’ ialah suara terompah dan gerakannya di atas bumi.


Wallahu a’lam.
Keutamaan Shalat Jumaat, Kewajibannya, Mandi Untuk Menghadhirinya, Datang Berpagi-pagi Kepadanya, Doa Pada Hari Jumaat, Membaca Shalawat Nabi Pada Hari Itu, Huraian Perihal Saat Dikabulkannya Doa-doa Dan Sunnahnya Memperbanyak Zikir Kepada Allah Ta’ala Sesudah Jumaat


Allah Ta’ala berfirman:

"Maka jikalau shalat sudah diselesaikan, maka menyebarlah di bumi dan carilah dari
keutamaan Allah dan ingatlah kepada Allah sebanyak-banyaknya, supaya engkau semua dapat berbahagia." (al-Jumu’ah: 10)

1144. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Sebaik-baik hari yang matahari terbit pada hari itu ialah hari jum’ah. Pada hari itulah Adam diciptakan dan pada hari itu pula ia dimasukkan dalam syurga dan juga pada hari itulah ia dikeluarkan dari syurga itu," (Riwayat Muslim)

1145. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Barangsiapa berwudhu’ lalu memperbaguskan wudhu’nya, Kemudian mendatangi shalat Jum’ah terus mendengar dan berdiam diri - tidak berbicara sama sekali, maka diampunkanlah untuknya antara Jum’ah itu dengan Jum’ah yang berikutnya, dengan diberi tambahan tiga hari lagi. Barangsiapa yang memegang kerikil - batu kecil untuk dipermain-mainkan sehingga tidak memperhatikan isi khutbah, maka ia telah melakukan kelalaian - yakni bersalah." (Riwayat Muslim)

1146. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., katanya: "Shalat lima waktu dan dari Jum’ah satu ke Jum’ah berikutnya, dari Ramadhan ke Ramadhan, adalah sebagai penebus – yakni penebus dosa - antara waktu-waktu kesemuanya itu - yakni antara waktu yang satu dengan waktu yang berikutnya, selama dosa-dosa besar dijauhi." (Riwayat Muslim)

1147. Dari Abu Hurairah dan juga dari Ibnu Umar radhiallahu ’anhum, bahawasanya keduanya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda di atas tiang-tiang mimbarnya:

"Nescayalah kaum-kaum - orang-orang banyak - itu harus suka menghentikan kebiasaan mereka meninggalkan shalat-shalat Jum’ah, atau - kalau tidak demikian, maka nescayalah Allah akan menutup di atas hati-hati mereka kemudian pastilah mereka akan termasuk dalam golongan orang-orang yang lalai." (Riwayat Muslim)


1148. Dari Ibnu Umar radhiallahu ’anhuma bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Jikalau seseorang di antara engkau semua mendatangi shalat Jum’ah, maka hendaklah mandi dulu." (Muttafaq ’alaih)

1149. Dari Abu Said r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Mandi Jum’ah itu adalah wajib bagi setiap orang yang sudah baligh." (Muttafaq ’alaih)

Yang dimaksudkan dengan Almuhtalim ialah orang yang sudah baligh - dewasa dan berakal, sedang yang dimaksudkan wajib ialah secara pilihan, seperti kata seseorang pada kawannya: "Hakmu itu wajib atasku."

1150. Dari Samurah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa berwudhu’ pada hari Jum’ah, maka dengan keringanan itu - bolehlah dilakukan dan tanpa mandi - dan itupun sudah baik. Tetapi barangsiapa yang mandi, maka mandi itu adalah lebih utama."

Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.

1151. Dari Salman r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidaklah seseorang lelaki itu mandi pada hari Jum’ah, lalu bersuci sekuasa ia melakukan bersuci tadi dan berminyak dengan minyaknya atau mengambil dari sebahagian harum-haruman – minyak harum - yang ada di rumahnya, selanjutnya ia keluar, lalu tidak memisahkan antara dua orang yang sedang duduk, kemudian bersembahyang yang telah ditentukan untuknya - yakni shalat sunnah Tahiyyatul masjid, seterusnya berdiam diri - tidak bercakap-cakap - ketika imam berbicara, melainkan diampunkanlah untuknya antara Jum’ah itu dengan Jum’ah lainnya - yakni yang berikutnya." (Riwayat Bukhari)

1152. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Barangsiapa mandi pada hari Jum’ah sebagaimana mandi ketika janabah, lalu pergi - ke masjid, maka seolah-olah ia berkurban seekor unta, dan barangsiapa yang pergi pada jalan kedua, maka seolah-olah ia berkurban seekor lembu, dan barangsiapa pergi pada jam ketiga, maka seolah-olah ia berkurban seekor kambing yang bertanduk, dan barangsiapa pergi pada jam keempat, maka seolah-olah ia berkurban seekor ayam betina, dan barangsiapa pergi pada jam kelima, maka seolah-olah ia berkorban sebutir telur. Apabila imam telah keluar, maka para malaikat - yang mencatat - itu semuanya mendengarkan zikir - yakni khutbah." (Muttafaq ’alaih)

Sabdanya: Ghuslal janabah yakni mandi seperti mandi ketika janabah dalam sifat dan keadaannya.

1153. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. menyebut-nyebutkan hari Jum’ah, lalu beliau s.a.w. bersabda:

"Dalam hari Jum’ah itu suatu saat yang tidak ditepati oleh seseorang Muslim dan ia sedang berdiri bersembahyang sambil memohonkan sesuatu permohonan kepada Allah, melainkan Allah akan memberikan apa yang dimohonkannya itu." Rasulullah mengisyaratkan dengan tangannya sebagai tanda mempersedikitkan waktu yang dimaksudkan itu." (Muttafaq ’alaih)

1154. Dari Abu Burdah bin Abu Musa al-Asy’ari r.a., katanya: "Abdullah bin Umarradhiallahu ’anhuma berkata: "Apakah engkau pernah mendengar ayahmu menceriterakan tentang Rasulullah s.a.w. dalam hal shalat Jum’ah?" la berkata: "Saya - Abu Burdah -[menjawab: "Ya, saya pernah mendengar ia berkata: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Waktu yang mustajab itu ialah antara duduknya imam - di atas mimbar sampai shalat diselesaikan." (Riwayat Muslim)

1155. Dari Aus bin Aus r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Sesungguhnya di antara hari-harimu semua yang lebih utama ialah hari Jum’ah, maka dari itu perbanyakkanlah membaca shalawat padaku dalam hari Jum’ah itu, sebab sesungguhnya shalawatmu semua itu ditunjukkan kepadaku."

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.
Sunnahnya Sujud Syukur Ketika Mendapatkan Kenikmatan Yang Nyata Atau Terhindar Dari Bencana Yang Nyata


1156. Dari Sa’ad bin Abu Waqqash r.a., katanya: "Kita semua keluar dengan Rasulullah s.a.w. dari Makkah menuju Madinah. Ketika kita sudah berada di dekat ’Azwara’, beliau s.a.w. lalu turun -dari kenderaannya, kemudian mengangkat kedua tangannya terus berdoa kepada Allah sesaat, selanjutnya lalu turun untuk bersujud, kemudian berdiam diri agak lama, kemudian berdiri mengangkat kedua tangannya sesaat lalu turun untuk bersujud lagi dan ini dilakukan sampai tiga kali. Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Sesungguhnya saya bermohon kepada Tuhanku supaya dapat memberikan syafaat kepada ummatku, lalu Tuhan memberikan padaku sepertiga dari ummatku itu. Kemudian saya turun untuk bersujud kerana menyatakan kesyukuran kepada Tuhanku. Selanjutnya saya mengangkat kepalaku lalu saya bermohon lagi pada Tuhanku untuk ummatku, kemudian Tuhan memberikan kepadaku sepertiga ummatku lagi, lalu saya turun pula untuk bersujud kepada Tuhanku kerana menyatakan kesyukuran kepada Tuhanku. Seterusnya saya mengangkat kepalaku sekali lagi, lalu saya bermohon kepada Tuhanku untuk ummatku, kemudian memberikan pula sepertiga yang terakhir, maka saya turun untuk bersujud kepada Tuhanku." (Riwayat Abu Dawud)
 
Keutamaan Bangun Shalat Di Waktu Malam

Allah Ta’ala berfirman:



"Dan dari sebahagian waktu malam, maka lakukanlah shalat Tahajud, sebagai suatu amalan sunnah untukmu, mudah-mudahan Tuhanmu akan mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (al-lsra’: 79)

Allah Ta’ala berfirman pula:

"Mereka sama meninggalkan tempat-tempat pembaringannya -untuk melakukan ibadat di waktu malam." (as-Sajdah: 16)

Allah Ta’ala juga berfirman:

"Mereka itu sedikit sekali dari waktu malam yang mereka pergunakan untuk tidur." (az-Zariyat: 17)

1157. Dari Aisyah radhiallahu ’anha, katanya: "Nabi s.a.w. itu berdiri untuk bersembahyang malam, sehingga pecah-pecah kedua tapak kakinya. Saya berkata kepadanya: "Mengapa Tuan mengerjakan sedemikian ini, ya Rasulullah, padahal sudah diampunkan untuk Tuan dosa-dosa Tuan yang dahulu dan yang kemudian?" beliau s.a.w. lalu bersabda: "Tidakkah saya ini seorang hamba yang banyak bersyukur." (Muttafaq ’alaih)

Diriwayatkan dari al-Mughirah sedemikian itu pula. (Muttafaq ’alaih)

1158. Dari Ali r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. mendatanginya dan Fathimah di waktu malam, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Apakah engkau berdua tidak bersembahyang?" (Muttafaq ’alaih)

Tharaqahu ertinya mendatangi di waktu malam.

1159. Dari Salim bin Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiallhu ’anhum dari ayahnya bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Sebagus-bagus orang lelaki ialah Abdullah, andaikata ia suka bersembahyang di waktu malam."

Salim berkata: "Sejak saat itu Abdullah tidak tidur di waktu malam, kecuali sebentar sekali." (Muttafaq ’alaih)

1160. Dari Abdullah bin ’Amr bin al-’Ash radhiallahu ’anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Hai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti si Fulan itu. Dulu ia suka sekali bangun bersembahyang di waktu malam, tetapi kini meninggalkan bangun sembahyang waktu malam itu." (Muttafaq ’alaih)

1161. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: "Ada seorang lelaki yang disebut-sebut di sisi Nabi s.a.w., iaitu bahawa orang tersebut tidur di waktu malam sampai pagi - yakni tidak bangun untuk bersembahyang malam, lalu beliau s.a

Dikirim pada 21 Desember 2009 di hadits tentang shalat
comments powered by Disqus


connect with ABATASA